Seperti yang sudah
diketahui, nama saya Ratri Khoiriyah. Bukanlah siapa-siapa dan tidak jauh beda
dari seorang pecundang. Bukan juga dari keluarga yang berada dan memiliki
pendidikan yang tinggi. Namun pecundang ini akan selalu berjuang dalam usaha
nya untuk meraih mimpinya nanti.
Dimulai dari tahun
1995. Terasa bahagia ketika lahir dan sempat menjalani hidup di Ibu Kota. Ibu
dan Bapak semua bekerja demi segelas susu pada kala itu. Kemudian saya dididik
dan dirawat oleh seorang wanita asal Madura. Seorang wanita yang baik, katanya.
Tidak tahu pasti, orang tua saya yang bercerita demikian.
Namun bahagia itu
tidak bertahan lama, satu tahun setelah kelahiran saya, orang tua terpaksa
merasakan PHK karena perusahaan gelas yang pada saat itu sebagai ladang nafkah
orang tua terpaksa harus gulung tikar. Bukan, bukan karena kelahiran saya
membawa sial. Lengser nya Pak Harto yang menyebabkan perusahaan itu harus
ditutup. Ya, pabrik gelas itu milik Pak Harto.
Sepeninggal dari Jakarta,
orang tua dan saya melanjutkan hidup di Sidoarjo. Bergabung dengan orang tua
dari pihak Bapak. Di Sidoarjo kehidupan tidak begitu berjalan baik. Terlebih
karena orang tua saya penyandang disabilitas.
Untung saja kala
itu biaya pendidikan tidak begitu mencekik. Sampai saya lulus SD, saya mendapat
bantuan dari sebuah Yayasan. Memasuki jenjang SMP sedikit merasa khawatir.
Walaupun kala itu saya berada di SMP Negeri namun tetaplah, biaya seragam dan
mobilitas disana tidaklah gratis.
Ternyata embel-embel
SMP Negeri ini membuat beberapa kalangan melirik untuk membantu perekonomian
keluarga saya dalam menyekolahkan saya kala itu. Saya-pun lagi-lagi mendapat
bantuan dalam urusan sekolah ini.
Melihat begitu
banyak rizki yang didapat keluarga saya, tak enak rasanya bila tidak memberikan
pembuktian pada publik, bahwa saya tidak hanya seorang yang menerima bantuan.
Hal ini saya buktikan dengan sebuah prestasi. Di tahun 2008 saya pernah
mengikuti ajang Lompamar tingkat kabupaten. Walaupun kalah, yah ini wajar saja
sebagai pemula banyak sekali kesalahan yang menyebabkan kegagalan, paling tidak
saya pernah mewakili sekolah untuk sebuah kejuaran, walaupun tidak membuahkan
hasil. Bodo
Tidak hanya itu,
prestasi akademik lainnya adalah saya stabil di kelas ke-2 terbaik. Heeeyyy itu
hebat asal kalian tahu. Namun pernah kala itu saya berada di kelas ke-2
terbawah, rasanya ah saya berjanji tidak akan masuk kesana lagi, suram tidak
bisa digambarkan.
Lulus dari SMP
dengan NEM cukup memuaskan ternyata tidak membawa saya pada lubang
keberuntungan. Di pemilihan SMK Negeri di Surabaya maupun Sidoarjo keduanya
saya tidak terpilih. Jangan tanya, saya malas bercerita. Hingga pada akhirnya
saya berakhir di sebuah sekolah kejuruan swasta di pinggiran. Pinggiran sekali,
dibilang Sidoarjo juga sudah mendekati perbatasan Surabaya, namun bila dibilang
Surabaya juga bukan karena masih wilayah Sidoarjo. Mungkin disebut pinggiran
karena bersebelahan dengan kuburan dan selokan yang luar biasa jorok.
Masa SMK bukanlah
masa berjaya bagi saya. Tidak ada torehan prestasi apapun pada masa ini.
Semangat belajar-pun naik turun seperti harga beras. Yang ada catatan keburukan
berkembang, selalu bertambah tanpa bisa berkurang seperti harga bbm.
Tercatat sebagai
siswa paling bengal dan dihafal guru piket tidak membuat saya merasa malu. Saya
justru merasa bangga ketika dikenal begitu. Keluar masuk ruang piket sudah
menjadi hal yang biasa. Namun untungnya, otak ini tidak bodoh-bodoh amat.
Walaupun catatan keburukan penuh sesak, pelajaran yang diberikan guru ternyata
juga cukup mudah untuk berdesak-desakan di otak yang tak seberapa besar ini.
Sebagian guru juga
sering menunjuk saya untuk membimbing teman yang lain ketika mereka merasa
susah. Patutlah saya berbangga dengan kondisi ini. Saya memang bengal, tapi
saya tidak lupa dengan kodrat saya sebagai siswa untuk menempuh pendidikan
dengan maksimal. Ah saya lupa menyampaikan, saya bersekolah disekolah jurusan
Multimedia. Ketertarikan saya memang pada bidang teknologi. Teknologi dan seni,
ah keduanya percampuran maha dahsyat.
Setelah lulus SMK,
keinginan untuk melanjutkan sekolah grafis tidak begitu kuat mengingat
persaingan yang ada diluar sana. Saya pun mulai melirik dunia jurnalistik di
sebuah perguruan tinggi agama yang cukup terkenal di Jawa Timur khususnya.
Terkenal bukan karena bagus nya, tapi karena murah biaya pendidikan disini. Oke
perguruan tinggi ini memang bagus, namun itu dalam program studi menyangkut
keagamaan, namun bukan itu tujuan saya.
Akhirnya ketika
masa penerimaan mahasiswa, saya mendaftarkan diri di sebuah universitas negeri
yang besar, sangat malas untuk menyebutkannya. Dan pada pilihan kedua saya
menuliskan IAIN Sunan Ampel, prodi Ilmu Komunikasi, dan yang ketiga prodi PGMI.
Entah mengapa dipilihan ketiga saya memilih demikian. Mungkin karena ketika
saya kecil, cita-cita saya sebagai guru. Tapi saya sudah tidak menginginkannya.
Naas. Justru
dipilihan ketiga itulah saya diterima. Basic sekolah negeri dan umum tanpa ada
sekolah islam membuat saya kalap menjalani pendidikan disini. Belum lagi
rekan-rekan yang sudah setingkat lebih tinggi pendidikan agama nya semakin
menekankan kepada saya bahwa saya tidak bisa. Saya ingin putar haluan.
![]() |
| Find Me? Ah sepertinya ketahuan |
Merasa tidak enjoy
dengan suasana kuliah, saya mencoba mencari kesenangan saya sendiri. Bergabung
dengan sebuah UKM kemapala’an adalah cara saya. Mencari UKM yang bergerak
dibidang teknologi di sebuah PTAIN hampir seperti mencari kain coklat ditengah
danau lumpur. Alternatifnya adalah menjadi penikmat alam. Yang di kampus saya
dikenal dengan nama mapalsa. Dan syukur alhamdulillah dari sini, saya berhasil
menorehkan nama sebagai perwakilan fakultas dalam pengibaran bendera perdana
transformasi IAIN menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya di puncak tertinggi Jawa, Mahameru.
Sudah terlambat
bagi saya untuk mengejar mimpi saya sebagai pekerja balik layar pertelivisian,
sudah malas rasanya untuk resign kemudian mengikuti ujian lagi demi masuk ilmu
komunikasi. Bulat tekat saya untuk melanjutkan mimpi kecil saya. Mungkin dari
semangat kecil itu akan timbul motivasi. Motivasi untuk lulus 4 tahun lagi.
Menjadi guru SD satu tahun kedepannya. Dan tidak semua guru SD Islam
membosankan dengan basic sekolah guru islam. Disini saya terlahir guru yang
berbeda. Saya dilatih oleh alam. Kedepannya? Semoga sesuai harapan—

No comments:
Post a Comment