Saturday, December 7, 2013

Otobiografi atau Narsisme? Ah, sama saja

Seperti yang sudah diketahui, nama saya Ratri Khoiriyah. Bukanlah siapa-siapa dan tidak jauh beda dari seorang pecundang. Bukan juga dari keluarga yang berada dan memiliki pendidikan yang tinggi. Namun pecundang ini akan selalu berjuang dalam usaha nya untuk meraih mimpinya nanti.

Dimulai dari tahun 1995. Terasa bahagia ketika lahir dan sempat menjalani hidup di Ibu Kota. Ibu dan Bapak semua bekerja demi segelas susu pada kala itu. Kemudian saya dididik dan dirawat oleh seorang wanita asal Madura. Seorang wanita yang baik, katanya. Tidak tahu pasti, orang tua saya yang bercerita demikian.

Namun bahagia itu tidak bertahan lama, satu tahun setelah kelahiran saya, orang tua terpaksa merasakan PHK karena perusahaan gelas yang pada saat itu sebagai ladang nafkah orang tua terpaksa harus gulung tikar. Bukan, bukan karena kelahiran saya membawa sial. Lengser nya Pak Harto yang menyebabkan perusahaan itu harus ditutup. Ya, pabrik gelas itu milik Pak Harto.

Sepeninggal dari Jakarta, orang tua dan saya melanjutkan hidup di Sidoarjo. Bergabung dengan orang tua dari pihak Bapak. Di Sidoarjo kehidupan tidak begitu berjalan baik. Terlebih karena orang tua saya penyandang disabilitas.

Untung saja kala itu biaya pendidikan tidak begitu mencekik. Sampai saya lulus SD, saya mendapat bantuan dari sebuah Yayasan. Memasuki jenjang SMP sedikit merasa khawatir. Walaupun kala itu saya berada di SMP Negeri namun tetaplah, biaya seragam dan mobilitas disana tidaklah gratis.

Ternyata embel-embel SMP Negeri ini membuat beberapa kalangan melirik untuk membantu perekonomian keluarga saya dalam menyekolahkan saya kala itu. Saya-pun lagi-lagi mendapat bantuan dalam urusan sekolah ini.

Melihat begitu banyak rizki yang didapat keluarga saya, tak enak rasanya bila tidak memberikan pembuktian pada publik, bahwa saya tidak hanya seorang yang menerima bantuan. Hal ini saya buktikan dengan sebuah prestasi. Di tahun 2008 saya pernah mengikuti ajang Lompamar tingkat kabupaten. Walaupun kalah, yah ini wajar saja sebagai pemula banyak sekali kesalahan yang menyebabkan kegagalan, paling tidak saya pernah mewakili sekolah untuk sebuah kejuaran, walaupun tidak membuahkan hasil. Bodo

Tidak hanya itu, prestasi akademik lainnya adalah saya stabil di kelas ke-2 terbaik. Heeeyyy itu hebat asal kalian tahu. Namun pernah kala itu saya berada di kelas ke-2 terbawah, rasanya ah saya berjanji tidak akan masuk kesana lagi, suram tidak bisa digambarkan.

Lulus dari SMP dengan NEM cukup memuaskan ternyata tidak membawa saya pada lubang keberuntungan. Di pemilihan SMK Negeri di Surabaya maupun Sidoarjo keduanya saya tidak terpilih. Jangan tanya, saya malas bercerita. Hingga pada akhirnya saya berakhir di sebuah sekolah kejuruan swasta di pinggiran. Pinggiran sekali, dibilang Sidoarjo juga sudah mendekati perbatasan Surabaya, namun bila dibilang Surabaya juga bukan karena masih wilayah Sidoarjo. Mungkin disebut pinggiran karena bersebelahan dengan kuburan dan selokan yang luar biasa jorok.

Masa SMK bukanlah masa berjaya bagi saya. Tidak ada torehan prestasi apapun pada masa ini. Semangat belajar-pun naik turun seperti harga beras. Yang ada catatan keburukan berkembang, selalu bertambah tanpa bisa berkurang seperti harga bbm.

Tercatat sebagai siswa paling bengal dan dihafal guru piket tidak membuat saya merasa malu. Saya justru merasa bangga ketika dikenal begitu. Keluar masuk ruang piket sudah menjadi hal yang biasa. Namun untungnya, otak ini tidak bodoh-bodoh amat. Walaupun catatan keburukan penuh sesak, pelajaran yang diberikan guru ternyata juga cukup mudah untuk berdesak-desakan di otak yang tak seberapa besar ini.

Sebagian guru juga sering menunjuk saya untuk membimbing teman yang lain ketika mereka merasa susah. Patutlah saya berbangga dengan kondisi ini. Saya memang bengal, tapi saya tidak lupa dengan kodrat saya sebagai siswa untuk menempuh pendidikan dengan maksimal. Ah saya lupa menyampaikan, saya bersekolah disekolah jurusan Multimedia. Ketertarikan saya memang pada bidang teknologi. Teknologi dan seni, ah keduanya percampuran maha dahsyat.

Setelah lulus SMK, keinginan untuk melanjutkan sekolah grafis tidak begitu kuat mengingat persaingan yang ada diluar sana. Saya pun mulai melirik dunia jurnalistik di sebuah perguruan tinggi agama yang cukup terkenal di Jawa Timur khususnya. Terkenal bukan karena bagus nya, tapi karena murah biaya pendidikan disini. Oke perguruan tinggi ini memang bagus, namun itu dalam program studi menyangkut keagamaan, namun bukan itu tujuan saya.

Akhirnya ketika masa penerimaan mahasiswa, saya mendaftarkan diri di sebuah universitas negeri yang besar, sangat malas untuk menyebutkannya. Dan pada pilihan kedua saya menuliskan IAIN Sunan Ampel, prodi Ilmu Komunikasi, dan yang ketiga prodi PGMI. Entah mengapa dipilihan ketiga saya memilih demikian. Mungkin karena ketika saya kecil, cita-cita saya sebagai guru. Tapi saya sudah tidak menginginkannya.

Naas. Justru dipilihan ketiga itulah saya diterima. Basic sekolah negeri dan umum tanpa ada sekolah islam membuat saya kalap menjalani pendidikan disini. Belum lagi rekan-rekan yang sudah setingkat lebih tinggi pendidikan agama nya semakin menekankan kepada saya bahwa saya tidak bisa. Saya ingin putar haluan.

Find Me? Ah sepertinya ketahuan 
Merasa tidak enjoy dengan suasana kuliah, saya mencoba mencari kesenangan saya sendiri. Bergabung dengan sebuah UKM kemapala’an adalah cara saya. Mencari UKM yang bergerak dibidang teknologi di sebuah PTAIN hampir seperti mencari kain coklat ditengah danau lumpur. Alternatifnya adalah menjadi penikmat alam. Yang di kampus saya dikenal dengan nama mapalsa. Dan syukur alhamdulillah dari sini, saya berhasil menorehkan nama sebagai perwakilan fakultas dalam pengibaran bendera perdana transformasi IAIN menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya di puncak tertinggi Jawa, Mahameru.


Sudah terlambat bagi saya untuk mengejar mimpi saya sebagai pekerja balik layar pertelivisian, sudah malas rasanya untuk resign kemudian mengikuti ujian lagi demi masuk ilmu komunikasi. Bulat tekat saya untuk melanjutkan mimpi kecil saya. Mungkin dari semangat kecil itu akan timbul motivasi. Motivasi untuk lulus 4 tahun lagi. Menjadi guru SD satu tahun kedepannya. Dan tidak semua guru SD Islam membosankan dengan basic sekolah guru islam. Disini saya terlahir guru yang berbeda. Saya dilatih oleh alam. Kedepannya? Semoga sesuai harapan—

No comments: