Sunday, November 24, 2013

KINI, ADA (sedikit) RUANG BAGI DISABILITAS UNTUK BELAJAR

Pernahkah mendengar soal disabilitas?

Disabilitas atau difabel adalah kekurangan fisik meliputi tuna rungu, tuna wicara, tuna aksara, tuna daksa, dan autisme. Betul sekali apabila ada yang mengatakan, penyandang difabel adalah kaum kekurangan. Secara fisik memang benar adanya. Namun pernahkah direnungi, bahwa dari kekurangan yang mereka miliki itu tersimpan beribu potensi untuk mendobrak eksistensi diri mereka? Pernahkah terpikir bahwa mereka yang kurang lengkap fisiknya dapat membawa nama bangsa ke kancah internasional?

Memiliki kekurangan itu bukan berarti tidak mampu. Lihat saja, ?? wanita ini hanya memiliki 4 jari, namun dari 4 jari itulah terlahir alunan musik indah layaknya pianis-pianis lainnya. Dan percayakah bahwa Beethoven, seorang komposer klasik-pun terlahir sebagai penyandang disabilitas. Mendiang Beethoven memiliki pendengaran yang tidak sama dengan manusia umumnya. Bahkan dapat dikatakan Beethoven tuna rungu. But Fur Elisé never dies. Belum ada yang bisa menandingi kesedihan dan harmonisasi yang ada pada instrumen Fur Elisé, sebuah mahakarya dari penyandang difabel.

Dan dalam urusan pendidikan, lebih-lebih yang ada pada Indonesia. Tempat untuk memfasilitasi mutiara-mutiara tersembunyi ini teramat sangat minim. Rasa-rasanya tidak ada tempat lain selain SDLB-SMPLB-SMALB, semuanya berakhiran luar biasa. Bagi anak yang ‘benar-benar luar biasa’, seharusnya mereka tidak berada disini. Boleh saja mereka kekurangan pada fisik, namun pada bagian dalam, jauh dibalik tulang tengkoraknya, sebuah otak brilian itu masih berfungsi dengan baik. Dan seharusnya mereka pun sama seperti anak-anak lain. Bersekolah tidak disekolah dengan akhiran luar biasa. Dan segala ambisi ini, agaknya tidak didukung oleh lingkungan sekitar.

Beberapa sekolah umum memang mau menampung penyandang difabel, asalkan anak tersebut mampu mengikuti pelajaran tanpa menganggu proses belajar mengajar tersebut. Konsep ini betul. Namun kenyataannya, bukan mereka yang membuat proses belajar mengajar terganggu, namun teman yang lain. Seringnya penyandang difabel sebagai korban bullying membuat semangat anak dan orang tua itu-pun menurun. Permasalahannya sepele, mereka para penyandang disabilitas patut dibully. Lalu mau apa? Mereka-pun tidak mau terlahir sebagai penyandang disabilitas. Mereka juga ingin memiliki bentuk fisik seperti kalian. Mendapat apa seperti yang kalian dapat. Bila sudah begini, sekolah juga tidak dapat berbuat banyak.

Hal ini terasa seperti dilema. Mungkin bagi sebagian orang tua penyandang difabel sudah merasa putus asa dan hanya dapat menerima kenyataan bahwa anaknya bersekolah di sekolah luar biasa, bercampur dengan penyandang difabel lainnya. Mengikuti jenjangnya, dari SDLB lalu ke SMPLB, bila masih ada biaya, syukur-syukur dilanjut ke SMALB. Bila sudah tamat, mungkin mereka akan dibawa ke sebuah pelosok desa, dinikahkan entah dengan siapa. Namun tidak oleh sebagian orang tua yang lain.

Orang tua yang menyadari potensi yang ada ini, akan meneruskan hak-hak anaknya. Hak untuk mendapat pendidikan yang sama. Tidak masalah jika basicly dari anaknya adalah sekolah dengan akhiran luar biasa. Selanjutnya, mereka akan memperjuangkan hak anaknya. Dengan melanjutkannya ke perguruan tinggi. Sama seperti anak-anak seuisianya yang lain.

Tak tanggung, perguruan tinggi incarannya pun sekelas Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga. Saat ini memang, beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) membuka jalur khusu bagi penyandang difabel yang berkompeten. Melalui SPKPD (Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas) diharapkan akan lahir sarjana-sarjana yang tak pandang kekurangan.


Dalam proses nantinya, tentu penyandang difabel ini akan dibantu oleh beberapa volunteer untuk mendampingi. Volunteer sudah mumpuni, kemauan dari anak dan orang tua juga sudah ada. Sekarang tinggal universitas itu sendiri. Apakah sudah memberikan fasilitas yang memadai bagi kaum khusus ini? Semoga realisasinya berjalan demikian--

No comments: