Pernahkah
mendengar soal disabilitas?
Disabilitas atau difabel adalah kekurangan fisik
meliputi tuna rungu, tuna wicara, tuna aksara, tuna daksa, dan autisme. Betul sekali
apabila ada yang mengatakan, penyandang difabel adalah kaum kekurangan. Secara
fisik memang benar adanya. Namun pernahkah direnungi, bahwa dari kekurangan
yang mereka miliki itu tersimpan beribu potensi untuk mendobrak eksistensi diri
mereka? Pernahkah terpikir bahwa mereka yang kurang lengkap fisiknya dapat
membawa nama bangsa ke kancah internasional?
Memiliki kekurangan
itu bukan berarti tidak mampu. Lihat saja, ?? wanita ini hanya memiliki 4 jari, namun dari
4 jari itulah terlahir alunan musik indah layaknya pianis-pianis lainnya. Dan
percayakah bahwa Beethoven, seorang komposer klasik-pun terlahir sebagai
penyandang disabilitas. Mendiang Beethoven memiliki pendengaran yang tidak sama
dengan manusia umumnya. Bahkan dapat dikatakan Beethoven tuna rungu. But Fur
Elisé never dies. Belum ada yang bisa
menandingi kesedihan dan harmonisasi yang ada pada instrumen Fur Elisé, sebuah mahakarya dari penyandang difabel.
Dan
dalam urusan pendidikan, lebih-lebih yang ada pada Indonesia. Tempat untuk
memfasilitasi mutiara-mutiara tersembunyi ini teramat sangat minim. Rasa-rasanya
tidak ada tempat lain selain SDLB-SMPLB-SMALB, semuanya berakhiran luar biasa.
Bagi anak yang ‘benar-benar luar biasa’, seharusnya mereka tidak berada disini.
Boleh saja mereka kekurangan pada fisik, namun pada bagian dalam, jauh dibalik
tulang tengkoraknya, sebuah otak brilian itu masih berfungsi dengan baik. Dan
seharusnya mereka pun sama seperti anak-anak lain. Bersekolah tidak disekolah
dengan akhiran luar biasa. Dan segala ambisi ini, agaknya tidak didukung oleh
lingkungan sekitar.
Beberapa
sekolah umum memang mau menampung penyandang difabel, asalkan anak tersebut
mampu mengikuti pelajaran tanpa menganggu proses belajar mengajar tersebut.
Konsep ini betul. Namun kenyataannya, bukan mereka yang membuat proses belajar
mengajar terganggu, namun teman yang lain. Seringnya penyandang difabel sebagai
korban bullying membuat semangat anak
dan orang tua itu-pun menurun. Permasalahannya sepele, mereka para penyandang
disabilitas patut dibully. Lalu mau
apa? Mereka-pun tidak mau terlahir sebagai penyandang disabilitas. Mereka juga
ingin memiliki bentuk fisik seperti kalian. Mendapat apa seperti yang kalian
dapat. Bila sudah begini, sekolah juga tidak dapat berbuat banyak.
Hal
ini terasa seperti dilema. Mungkin bagi sebagian orang tua penyandang difabel
sudah merasa putus asa dan hanya dapat menerima kenyataan bahwa anaknya bersekolah
di sekolah luar biasa, bercampur dengan penyandang difabel lainnya. Mengikuti
jenjangnya, dari SDLB lalu ke SMPLB, bila masih ada biaya, syukur-syukur
dilanjut ke SMALB. Bila sudah tamat, mungkin mereka akan dibawa ke sebuah
pelosok desa, dinikahkan entah dengan siapa. Namun tidak oleh sebagian orang
tua yang lain.
Orang
tua yang menyadari potensi yang ada ini, akan meneruskan hak-hak anaknya. Hak untuk mendapat pendidikan yang sama.
Tidak masalah jika basicly dari anaknya adalah sekolah dengan akhiran luar
biasa. Selanjutnya, mereka akan memperjuangkan hak anaknya. Dengan
melanjutkannya ke perguruan tinggi. Sama seperti anak-anak seuisianya yang
lain.
Tak
tanggung, perguruan tinggi incarannya pun sekelas Universitas Brawijaya dan
Universitas Airlangga. Saat ini memang, beberapa perguruan tinggi negeri (PTN)
membuka jalur khusu bagi penyandang difabel yang berkompeten. Melalui SPKPD (Seleksi Program Khusus
Penyandang Disabilitas) diharapkan akan lahir sarjana-sarjana yang tak pandang
kekurangan.
Dalam proses nantinya, tentu penyandang difabel ini
akan dibantu oleh beberapa volunteer untuk mendampingi. Volunteer sudah
mumpuni, kemauan dari anak dan orang tua juga sudah ada. Sekarang tinggal
universitas itu sendiri. Apakah sudah memberikan fasilitas yang memadai bagi
kaum khusus ini? Semoga realisasinya berjalan demikian--

No comments:
Post a Comment