Monday, December 23, 2013

Bicara MORAL lewat MURAL

Memang tidak banyak orang yang berani menunjukan siapa diri mereka dan bagaimana pemikiran yang ada pada diri mereka. Sekali nya ada, seperti yangs sering ditemui, hanya akan bikin malu negara. Bagaimana bila sekarang berhenti sejenak dan menilik dunia malam diramai nya jalanan kota metropolitan. Menilik mereka sebagai kritikus jalanan. Membaca idealisme dari sudut pandang seni mereka. Siapa yang mengira tembok raksasa yang dipenuhi dengan gambar berwarna itu memiliki kritik sosial yang menggelitik. Dan gambar penuh warna dengan berisikan kritik menggelitik itu bernama mural.

Mural kini mulai tidak dipandang sebelah mata. Kesan awal yang didapat mungkin adalah merusak keindahan kota. Namun realisasinya justru menjadi daya tarik sendiri bagi pendatang. Mungkin, mural memang seni eksentrik. Bagaimana tidak, mereka menyuarakan aspirasi mereka melalui gambar dan lengkap dengan tutur kata yang diluar dugaan..

Misalnya saja gambar disamping ini. gambar tersebut mengisyaratkan maraknya korupsi di Negeri ini. ketika masyarakat hanya dapat merasakan derita dari kejayaan para koruptor. Wajar saja. Bagaimana tidak, masyarakat selama ini hanya tau untuk membayar pajak secara teratur. Tanpa tau kemana larinya uang itu. Tiba-tiba saja tersiar berita bahwa dibadan perpajakan telah terjadi korupsi sebesar 3 miliyar, misalnya. 3 miliyar untuk kurupsi, ah totalnya sama seperti undian berhadiah di depo bangunan saja --

Namun sayangnya, seni mural tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah sebagai objek sasaran para Street Art Worker ini. Hampir ditiap kota memiliki peraturan daerah yang menentang adanya mural. Misalnya saja di Jakarta pada perda BAB V TERTIB LINGKUNGAN, disebutkan pada Pasal 21

Setiap orang atau badan dilarang:
a.  mencoret-coret, menulis, melukis, menempel iklan di dinding atau di tembok, jembatan lintas, jembatan penyebrangan orang, halte, tiang listrik, pohon, kendaraan  umum 
dan sarana umum lainnya;

Tidak tau alasannya apa, mungkin mereka takut kedok koruptor mereka dipublikasi oleh para street art worker ini.

Setiap malam hari ketika seniman jalanan ini telah menyelesaikan tugasnya, eh tiba-tiba saja keesokan paginya para satpol pp siap menggusur gambar-gambar yang menurut mereka ‘perusak fasilitas kota’ itu, dan malam esoknya ketika mereke datang untuk mengecek, gambar itu sudah hilang dari dinding tempat asalnya berada.

Kepada Pak Walikota, tolong, mereka hanya mencoba untuk bicara. Mungkin cara mereka memang salah, lalu apakah bapak tidak mencoba untuk memberikan solusi bagi permasalahan kecil ini. Beri mereka ruang untuk mengutarakan aspirasi yang ada pada otak kecil mereka. Kau tidak memberi mereka kesempatan, yang ada malah kau membunuh kreatifitas mereka. Separah itukah mereka dimata anda? Toh mereka menggambar tidak menggunakan dana dari pihak pemerintah. Yang mereka lakukan hanya-lah menggambar, itu pun tidak selalu tentang pemerintahan.

Seperti gambar disamping. Gambar tersebut menyiratkan bahwa global warming di dunia saat ini sudah semakin tidak terkontrol. Mereka mencoba untuk mengajak mereka yang melihat mural mereka untuk lebih melindungi bumi.

Upayanya gagal, tetap saja gambar seperti itu termasuk dalam ‘perusakan fasilitas kota’. Dan ketika sudah begitu, apa yang dapat mereka buat? Diam tertindas? Tidak! Bergejolak layaknya demonstran? Tidak seanarkis itu. Simple saja, mereka mengkritik peraturan konyol itu dengan MURAL J



Source :








Source :


No comments: