Memang tidak banyak orang yang berani menunjukan siapa
diri mereka dan bagaimana pemikiran yang ada pada diri mereka. Sekali nya ada,
seperti yangs sering ditemui, hanya akan bikin malu negara. Bagaimana bila sekarang
berhenti sejenak dan menilik dunia malam diramai nya jalanan kota metropolitan.
Menilik mereka sebagai kritikus jalanan. Membaca idealisme dari sudut pandang
seni mereka. Siapa yang mengira tembok raksasa yang dipenuhi dengan gambar
berwarna itu memiliki kritik sosial yang menggelitik. Dan gambar penuh warna
dengan berisikan kritik menggelitik itu bernama mural.
Mural kini mulai tidak dipandang sebelah mata. Kesan
awal yang didapat mungkin adalah merusak keindahan kota. Namun realisasinya
justru menjadi daya tarik sendiri bagi pendatang. Mungkin, mural memang seni
eksentrik. Bagaimana tidak, mereka menyuarakan aspirasi mereka melalui gambar
dan lengkap dengan tutur kata yang diluar dugaan..
Misalnya saja gambar disamping ini. gambar tersebut
mengisyaratkan maraknya korupsi di Negeri ini. ketika masyarakat hanya dapat
merasakan derita dari kejayaan para koruptor. Wajar saja. Bagaimana tidak,
masyarakat selama ini hanya tau untuk membayar pajak secara teratur. Tanpa tau
kemana larinya uang itu. Tiba-tiba saja tersiar berita bahwa dibadan perpajakan
telah terjadi korupsi sebesar 3 miliyar, misalnya. 3 miliyar untuk kurupsi, ah
totalnya sama seperti undian berhadiah di depo bangunan saja --
Namun sayangnya, seni mural tidak didukung sepenuhnya
oleh pemerintah sebagai objek sasaran para Street
Art Worker ini. Hampir ditiap kota memiliki peraturan daerah yang menentang
adanya mural. Misalnya saja di Jakarta pada perda BAB V TERTIB LINGKUNGAN, disebutkan pada Pasal 21
Setiap orang atau badan dilarang:
a. mencoret-coret,
menulis, melukis, menempel iklan di dinding atau di tembok, jembatan lintas,
jembatan penyebrangan orang, halte, tiang listrik, pohon,
kendaraan umum
dan sarana umum
lainnya;
Tidak tau alasannya apa, mungkin mereka takut kedok
koruptor mereka dipublikasi oleh para street art worker ini.
Setiap malam hari ketika seniman jalanan ini telah
menyelesaikan tugasnya, eh tiba-tiba
saja keesokan paginya para satpol pp siap menggusur gambar-gambar yang menurut
mereka ‘perusak fasilitas kota’ itu, dan malam esoknya ketika mereke datang untuk
mengecek, gambar itu sudah hilang dari dinding tempat asalnya berada.
Kepada Pak Walikota, tolong, mereka hanya mencoba untuk bicara. Mungkin cara mereka memang
salah, lalu apakah bapak tidak mencoba untuk memberikan solusi bagi
permasalahan kecil ini. Beri mereka ruang untuk mengutarakan aspirasi yang ada
pada otak kecil mereka. Kau tidak memberi mereka kesempatan, yang ada malah kau
membunuh kreatifitas mereka. Separah itukah mereka dimata anda? Toh mereka
menggambar tidak menggunakan dana dari pihak pemerintah. Yang mereka lakukan
hanya-lah menggambar, itu pun tidak selalu tentang pemerintahan.
Seperti gambar disamping. Gambar tersebut menyiratkan
bahwa global warming di dunia saat ini sudah semakin tidak terkontrol. Mereka
mencoba untuk mengajak mereka yang melihat mural mereka untuk lebih melindungi
bumi.
Upayanya gagal, tetap saja gambar seperti itu termasuk
dalam ‘perusakan fasilitas kota’. Dan ketika sudah begitu, apa yang dapat
mereka buat? Diam tertindas? Tidak! Bergejolak layaknya demonstran? Tidak
seanarkis itu. Simple saja, mereka mengkritik peraturan konyol itu dengan MURAL
J
Source :
Source :

No comments:
Post a Comment