Monday, November 18, 2013

MON(K)EY POLITIC

Berbicara soal pilitik, sama hal nya berbicara tentang segala kasus nya. Kasus klasik yang tidak akan berujung. Masalah kelangsungan demokrasi yang tidak sesuai harapan. Semuanya omong kosong lama.

Tentu nya khalayak publik sudah tidak asing lagi dengan kasus money politic. Istilah lama yang menjelaskan pembelian hak suara dengan imbalan uang. Tindakan semacam ini sering dijumpai jelang pemilu. Dan pelaku nya, tentu saja calon kandidat dalam pemilu itu sendiri.


Sudah bukan hal yang baru bila kandidat tersebut melakukan hal demikian. Seakan mereka tidak yakin akan kemampuan kepemimpinan mereka, mereka justru membagikan amplop berisi beberapa nominal uang berharap agar yang diberi amplop memilih nya saat pemilu.

Variasi kasusnya kini juga lebih bermacam-macam. Tidak hanya diberi dalam bentuk rupiah, namun terkadang juga berupa barang seperti kerudung atau mengadakan acara makan gratis. Lalu bukankah hal itu sama saja dengan merendahkan harga diri para calon kandidat itu? Perjelas lagi, harga diri mereka berarti sama dengan jumlah-nominal-uang-dalam-amplop ataupun bingkisan-berupa-kerudung ataupun satu-porsi-hidangan. Maaf, tapi itu tidak berbeda jauh dengan tingkah laku kera.

Klasik sekali membicarakan soal pemilu uang. Saat masa kampanye, para kandidat ini sangat berambisi untuk saling mengalahkan kandidat lainnya. Si kandidat A mengadakan acara open house, yang ketika para tamu nya pulang akan dihadiahi bingkisan. Kandidat B juga tidak mau kalah, kandidat B menyuguhkan hiburan persis seperti yang diinginkan masyarakatnya. Dangdut semalam suntuk lengkap dengan hidangan dan plus plus-nya.

Mudah saja bagi mereka untuk saat ini berkoar-koar dengan kampanye mereka. Mereka menjanjikan ini itu, kesejahteraan masyarakatnya, tidak ada pungutan berobat, tidak ada pungutan sekolah. Memangnya sekaya itu kah pemimpin kita? Sebesar itu kah APBN yang dimiliki daerahnya sehingga mampu menggratiskan semua? Mau dapat dana dari mana kalian berani menjanjikan hal sedemikian rupa? Pilihannya ada dua, korupsi atau hutang?

Terlalu banyak berkata mereka itu, tanpa memberikan pembuktian yang nyata. Seharusnya sebelum mereka berkampanye tidak dengan cara meneriakan omong kosong itu. Mereka dapat melakukannya dengan cara lebih manusiawi (tindakan koar-koar tanpa bukti nyata adalah tindakan setaniawi, haha). Mereka bisa saja mengumpulkan masyarakat, lalu mengajak mereka melihat profil sang kandidat. Dalam profil tersebut dipaparkan pencapaian apa yang sudah diraih oleh para kandidatnya. Malah baiknya, jauh sebelum hari kampanye kandidat tersebut coba berbaur dengan masyarakat bawah. Mengenalkan diri bukan sebagai calon kandidat, melainkan sebagai rakyat biasa. Dan tiba-tiba saja ketika masa kampanye rakyat bawah tadi pun akan terkaget dan mungkin saja berkata ‘kebaikan kandidat tersebut nyata, terbukti sejak lama’ hah seperti selogan obat herbal saja --


Kalau sudah begitu dan mon(k)ey politic masih saja berlangsung. Dan ternyata setelah diselidiki, semua pemberian kepada rakyat itu, uang-nya diperoleh dari hasil haram, cara menghentikan paling sederhananya adalah serahkan saja semua itu pada calon kandidat itu. Lemparkan sebuah pertanyaan, mau sampai kapan membodohi diri sendiri begitu? Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyiasatinya. Masa bodoh dengan uang atau sejenisnya itu. Tolak dengan tegas. Atau terima saja pemberian itu, persoalan memilih dia atau tidak, itu adalah bagian dari proses demokrasi yaitu rahasia, langsung, umum, bebas, jujur, adil dan beradab

No comments: