Berbicara soal pilitik, sama hal nya berbicara tentang
segala kasus nya. Kasus klasik yang tidak akan berujung. Masalah kelangsungan
demokrasi yang tidak sesuai harapan. Semuanya omong kosong lama.
Tentu nya khalayak publik sudah tidak asing lagi
dengan kasus money politic. Istilah lama yang menjelaskan pembelian hak
suara dengan imbalan uang. Tindakan semacam ini sering dijumpai jelang pemilu.
Dan pelaku nya, tentu saja calon kandidat dalam pemilu itu sendiri.
Sudah bukan hal yang baru bila kandidat tersebut
melakukan hal demikian. Seakan mereka tidak yakin akan kemampuan kepemimpinan
mereka, mereka justru membagikan amplop berisi beberapa nominal uang berharap
agar yang diberi amplop memilih nya saat pemilu.
Variasi kasusnya kini juga lebih bermacam-macam. Tidak
hanya diberi dalam bentuk rupiah, namun terkadang juga berupa barang seperti
kerudung atau mengadakan acara makan gratis. Lalu bukankah hal itu sama saja
dengan merendahkan harga diri para calon kandidat itu? Perjelas lagi, harga
diri mereka berarti sama dengan jumlah-nominal-uang-dalam-amplop ataupun
bingkisan-berupa-kerudung ataupun satu-porsi-hidangan. Maaf, tapi itu tidak
berbeda jauh dengan tingkah laku kera.
Klasik sekali
membicarakan soal pemilu uang. Saat masa kampanye, para kandidat ini sangat
berambisi untuk saling mengalahkan kandidat lainnya. Si kandidat A mengadakan
acara open house, yang ketika para tamu nya pulang akan dihadiahi bingkisan.
Kandidat B juga tidak mau kalah, kandidat B menyuguhkan hiburan persis seperti
yang diinginkan masyarakatnya. Dangdut semalam suntuk lengkap dengan hidangan
dan plus plus-nya.
Mudah saja
bagi mereka untuk saat ini berkoar-koar dengan kampanye mereka. Mereka
menjanjikan ini itu, kesejahteraan masyarakatnya, tidak ada pungutan berobat,
tidak ada pungutan sekolah. Memangnya sekaya itu kah pemimpin kita? Sebesar itu
kah APBN yang dimiliki daerahnya sehingga mampu menggratiskan semua? Mau dapat
dana dari mana kalian berani menjanjikan hal sedemikian rupa? Pilihannya ada dua,
korupsi atau hutang?
Terlalu banyak
berkata mereka itu, tanpa memberikan pembuktian yang nyata. Seharusnya sebelum
mereka berkampanye tidak dengan cara meneriakan omong kosong itu. Mereka dapat
melakukannya dengan cara lebih manusiawi (tindakan
koar-koar tanpa bukti nyata adalah tindakan setaniawi, haha). Mereka bisa
saja mengumpulkan masyarakat, lalu mengajak mereka melihat profil sang
kandidat. Dalam profil tersebut dipaparkan pencapaian apa yang sudah diraih
oleh para kandidatnya. Malah baiknya, jauh sebelum hari kampanye kandidat
tersebut coba berbaur dengan masyarakat bawah. Mengenalkan diri bukan sebagai
calon kandidat, melainkan sebagai rakyat biasa. Dan tiba-tiba saja ketika masa
kampanye rakyat bawah tadi pun akan terkaget dan mungkin saja berkata ‘kebaikan
kandidat tersebut nyata, terbukti sejak lama’ hah seperti selogan obat herbal
saja --
Kalau sudah
begitu dan mon(k)ey politic masih saja berlangsung. Dan ternyata setelah
diselidiki, semua pemberian kepada rakyat itu, uang-nya diperoleh dari hasil
haram, cara menghentikan paling sederhananya adalah serahkan saja semua itu
pada calon kandidat itu. Lemparkan sebuah pertanyaan, mau sampai kapan
membodohi diri sendiri begitu? Yang terpenting adalah bagaimana cara kita
menyiasatinya. Masa bodoh dengan uang atau sejenisnya itu. Tolak dengan tegas.
Atau terima saja pemberian itu, persoalan memilih dia atau tidak, itu adalah
bagian dari proses demokrasi yaitu rahasia, langsung, umum, bebas, jujur, adil
dan beradab

No comments:
Post a Comment