Sunday, September 29, 2013

Anak Anak Jalanan. Tanggung jawab siapa??


Berbicara soal civic education, soal kewarganegaraan, soal kebangsaan pasti tidak akan terlepas dari isu isu yang ada di dalamnya. Pada postingan kali ini saya akan membahas seputar sosial dan termasuk pendidikan didalamnya.

Semua ini berisi argumen dan pandangan dari saya pribadi. Tidak ada maksud untuk menyalahkan dan menggurui. This is just my opinion.


--------------------

Permasalahan ekonomi di Indonesia sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat-masyarakatnya. Pengangguran, pengamen, pengemis, anak anak yang terlantar sudah sering kita jumpai di kehidupan keseharian kita. Sebuah penyakit masyakat yang bila hanya dipikirkan -sampai matahari terbit dari arah barat pun- masalah ini tak akan terpecahkan.

Remaja remaja yang putus sekolah. Para musisi jalanan yang dibawah umur. Sudah terlalu sering kita lihat berkeliaran di keras nya kota kota besar. Mereka tidak bisa merasakan masa kecil mereka. Mereka tidak mendapat pendidikan yang seharusnya menjadi hak mereka. Dan semua itu hanya karena satu faktor. Kemiskinan.

Mahalnya pendidikan di Indonesia membuat mereka yang berada di kalangan bawah hanya dapat bermimpi untuk besekolah.




Dalam undang undang 1945 pasal 34 ayat 1 tertulis secara nyata bahwa “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelahara oleh negara


Jadi sudah jelas, bahwa anak-anak jalanan adalah tanggung jawab dari Negara, yang pada kasus ini dikelola oleh pemerintahan. Namun, bagaimana realisasi nya 

Dana BOS yang digunakan untuk pembebasan pungutan sekolah tidak terlalu besar, dana BOS tidak dapat digunakan untuk memeratakan pendidikan yang ada di seluruh Indonesia. Pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai), hanya akan selalu memakan korban di setiap antriannya. Subsidi itu tidak terlalu banyak nominalnya. Sudah begitu, uang ‘sedikit’ itu, yang seharusnya digunakan untuk pembenahan bangsa, masih dengan jahat nya mereka ambil, mereka curi, dan mereka makan untuk dia dan keluarganya. Naudubillah

---------------


Lalu sebetulnya, faktor apakah yang menjadi permasalahan dari itu semua? Apakah pemerintah yang tidak becus dalam menghadapi persoalan ekonomi? Ataukah tidak adanya kesadaran dari masyarakat masyarakat itu sendiri bahwa, seharusnya mereka yang harus merubah hidup mereka, bila mereka ingin membuat perubahan.

            Semua nya benar.

Dari masyarakat itu sendiri harus tumbuh rasa bahwa ‘aku harus lepas dari jerat kebodohan. Aku harus bangkit dari kemiskinan’. Dan bila semangat itu sudah muncul, suatu hari nanti pasti akan terlahir generasi penerus dengan good character dan high intelegent dari kaum marginal.

Yang kedua tentu dari pemerintahan itu sendiri. Pemerintah harus dengan betul melihat persebaran dana subsidi BOS.

Ketiga, yang tak kalah penting adalah peranan kita sebagai generasi penerus, generasi yang akan membuat perubahan. Kita semua harus sadar bahwa masih banyak kaum yang berada di bawah kita.  Masih banyak adik adik kita yang haus akan pendidikan.

Lalu dengan cara apa kita dapat membuat perubahan itu? Dari langkah yang paling kecil saja, di Indonesia banyak sekali komunitas komunitas kecil peduli anak anak marginal. Kita dapat bergabung dengan mereka, baik sebagai donatur ataupun langsung terjun sebagai volunteer. Atau mungkin, kita sendiri yang akan melindugi mereka? Dengan cara kita. Tidak menggantung dengan komunitas yang ada, bergabung dan bergerak membuat suatu perubahan yang baru. Dengan anak anak terbelakang yang akan menjadi seseorang yang hebat nantinya.
           

Untuk mengakhiri ini semua, saya ingin mengutip satu slogan dari produk susu yang ternama. 
MAKE YOUR MOVE!

No comments: